DEBAT
Oleh : Ribut Achwandi
Suatu saat tiga orang sahabat berdebat di sebuah warung kopi. Orang pertama — kebetulan seorang polisi. Sementara orang kedua — kebetulan juga ia adalah seorang jaksa. Dan orang ketiga — yang juga tidak lepas dari faktor kebetulan pula — ia bekerja di pengadilan sebagai seorang hakim. Kenapa saya sebut kebetulan? Sebab atas nama baik kebetulan pula mereka bisa bekerja di lembaga-lembaga itu. Karena di zaman sekarang nggak ada orang yang hanya bisa ngandalin kepintaran. Karena ketiga orang tersebut secara kebetulan pula sebenarnya tidak terlalu pintar. Jadi mereka juga mengandalkan keberuntungan nasib mereka bertiga.
Dalam debat model kusir jaran itu ketiganya mendebatkan siapa orang yang paling berjasa memberantas korupsi di negeri ini. Si polisi bilang, “Saya sulit membayangkan kalau seumpamanya di negeri ini nggak ada polisi . Wah ,pasti susah to nangkepi koruptor? Jadi menurut saya polisilah yang paling berjasa memberantas korupsi . Lah coba kalau nggak ada polisi siapa orang yang berani menangkap koruptor?
“Tapi kerja polisi itu kan sebatas menangkap dan membuat delik prekara to kang jadi nggak tuntas kerjanya kalau nggak ada jaksa. Loh coba ya, kalau nggak ada jaksa berapa koruptor yang akan lolos? Karena nggak bisa dituntut? Karena kerjanya jaksa itu kan membuat tuntutan sidang. Dan itu kerjaan berat loh kang. Jadi menurut saya tanpa jaksa pemberantasan korupsi itu mustahil!” Kata si jaksa.
Tidak terima dengan kedua pendapat itu si hakim lalu angkat bicara, “Loh kalian itu ya nggak bisa melihat kerja saya sebagai seorang hakim. Jelas-jelas kerja hakim itu paling berat. Karena harus memutuskan sidang perkara apalagi soal korupsi. Jadi kalau menurut saya tanpa hakim nggak ada koruptor yang masuk buii. Ya to? Apalagi biasanya tuntutan jaksa itu kadang nggak menggigit. Jadi kadang hakimlah yang bisa bikin keputusan yang paling berat buat koruptor. Dan intinya kalau nggak ada hakim saya yakin tragedy korupsi mania di negeri ini tidak akan bisa dihentikan.”
Debat itu pun kian seru. Namun di tengah-tengah serunya debat mereka, tiba-tiba si penjual kopi hanya nyelatuk, “Wah bapak-bapak debat sampeyan-sampeyan ini seru juga. Saya jadi tertarik. Tapi kalau menurut saya nuwun sewu loh ya Pak polisi, Pak Jaksa, dan Pak Hakim. Sebenarnya orang yang paling berjasa dalam pemberantasan korupsi itu bukan polisi, jaksa dan hakimnya.”
Ketiga orang itu pun kaget. Dan serentak mereka pun bertanya, “Lalu siapa?”
“Sabar dulu bapak-bapak. Jangan sekaget itu karena kopinya masih anget. Jadi mendingan diminum dulu,” kata penjual kopi itu.
Lalu ketiganya pun menenggak kopi bersama.
“Nah sudah tenang to sekarang? Sudah lega kan? Nah begini Bapak-bapak kalau bapak-bapak saja kerjanya suka ngopi tiap hari mana ada orang yang mau mengakui kalau sampeyan-sampeyan itu yang berjasa memberantas korupsi. Sebab kalau menurut saya orang yang paling berjasa memberantas korupsi itu ya para koruptornya kok pak.” Kata si penjual kopi.
“Loh kok bisa?” tanya si hakim.
“Loh lah iya to? Coba kalau di negeri ini nggak ada koruptor apa ya sampeyan bisa ngopi di sini? Lah wong harga secangkir kopi yang saya jual ke sampeyan itu ada tarifnya kok. Per jamnya itu kalau sampeyan ngopi itu bisa sampe seratus ribu rupiah. Terus lagi kalau di negeri ini nggak ada koruptor lalu kerjaan sampeyan apa? Bisa ngganggur seumur hidup to? Lah wong jumlah orang korup di negeri ini katanya juga lebih banyak dari polisi, hakim, dan jaksanya kok.” Sergah si pedagang kopi itu yang kebetulan adalah seorang pengusaha kaya yang membuka kedai kopi termahal di negeri ini.


Komentar Terakhir