Arsip

Archive for the ‘Telaah’ Category

Merasakan Kelezatan Spiritual

21 Januari 2010 Tinggalkan Komentar


Tokoh penting Singapura, Lee Kuan Yew, pernah mengingatkan generasi mudanya : “ Hidup bukan cuma untuk sepotong roti. Masih ada bianglala di langit Singapura. Keberhasilan pembangunan fisik bukan segala-galanya dalam hidup ini. ”Ungkapan arif demi melihat kembali keluhuran tujuan hidup bukan tanpa alasan. Sekarang kita melihat generasi muda bangsa di dunia rata-rata berfikir dan berorientasi jangka pendek (mata’).

Pertanyaan umum klasik rata-rata calon mahasiswa di Amerika dari dulu sampai sekarang berkisar tentang kebimbangan, ketidakpastian tujuan hidup. “Bagaimana saya harus memutuskan apa yang harus saya lakukan setelah saya dewasa ?”. Tapi sayang, perguruan tinggi tak bisa menjawab kegelisahan batin remaja dunia seperti itu. Bentuk baru kemiskinan idealisme generasi muda zaman ini ketika setiap fakultas hanya melaksanakan mandat mengajarkan kepada anak-anak bangsa untuk menjadi “mesin pembuat uang”. Di seberang lain, perguruan tinggi harus merespon permintaan pasar sehingga berurusan dengan tujuan karir-profesi dan penambahan income belaka.

Pada saat yang sama, para guru bangsa, mereka yang berada di koridor kekuasaan, kelas menengah bangsa, merasakan ketiadaan makna hidup semacam itu. Tidak sedikit yang bertanya sendiri dalam hati, hidup ini untuk apa, ketika sudah di puncak ? Ketika semuanya sudah diperoleh dan sangat berlebih ?. Tetapi mengapa seperti terus saja terasa ada yang belum tuntas dan belum terjawab dengan tuntas ? Seperti ada yang belum terselesaikan ?. Pesona gemerlapan material, prestise, terbukti membuat pemburunya kecewa ?. Read more…

Categories: Telaah Tag:,

Agama Ibrahim Musuh Agama Liberal

18 Januari 2010 Tinggalkan Komentar

Dasar agama ibrahim yaitu islam, yaitu menyerahkan diri, patuh dan tunduk kepada Alloh ‘Azza wa Jalla dengan cara mentauhidkan-Nya, mentaati dan membebaskan diri dari kesyirikan dan ahli syirik. Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar berlepas diri dari ajaran thagut yang disembah oleh orang-orang yang menyembahnya selain Alloh ‘Azza wa Jalla. Alloh ‘Azza wa Jalla memberi sifat kepada Ibrahim dengan sifat-sifat yang merupakan sifat tertinggi dalam tauhid. Dia adalah imam, yaitu menjadi suri teladan, pemimpin dan pendidik kebaikan. beliau senantiasa patuh kepada Alloh ‘Azza wa Jalla. Beliau adalah orang yang ikhlas dan jujur dan jauh dari syirik. Agama Ibrohim Adalah Agama Tauhid. Read more…

Categories: Telaah Tag:

Benah-benah Kesenian

18 Januari 2010 Tinggalkan Komentar

Oleh : Oleh Ibnu Masyis

Catatan November 2009 dari FTPA Unasman I

Masih adakah peteater di Sulawesi Barat (Sulbar)? Kalimat ini pernah mengisi status saya di facebook beberapa waktu lalu. Erotesis ini sebenarnya hanyalah sentilan refleksi untuk sebuah kontemplatif kesenian kita hari ini dan bahkan ke depan. Di era 80 sampai awal 90-an, boleh jadi menjadi jaman keemasan perteateran di Mandar (Baca: Sulbar).

Untuk sedikit menggelitik memori tentang romantisme ini, beberapa catatan dapat dilihat, bahwa di era inilah seorang Ali Syahbana mengukuhkan kedigdayaan Flamboyant Mandar yang berbasis di Tinambung dan bergerak dalam ranah kesenian khususnya dunia teater. Sementara Nurdahlan Jerana juga merancang eksistensi Sanggar Dini Wonomulyo, YMYK di Manding, Menara Lapeo di Campalagian, Teater Pammarica di SMA 1 Polewali, Sanggar Bhayangkara di Polewali, dan tiba-tiba H. Ahmad Asdi juga menelorkan Sanggar Tomepayung juga di Tinambung. Tidak sampai di situ, kemudian menyusul pula Bonek Pambusuang, Teater Palatto, dan lain-lain. Kelompok kesenian tumbuh sporadis di beberapa titik kala itu. Read more…

Categories: Telaah Tag:

Resonansi Buchori

18 Januari 2010 Tinggalkan Komentar

Oleh : Senja Turun Ceria

Totok Buchori berbisik pada diri sendiri: Keadaan sulit dilawan.

Kesenian itu berbeda dengan politik. Tetapi praktik berkesenian, mengandung konsekwensi politis. Ketika seorang seniman menentukan tema yang hendak dilukisnya, sebenarnya ia sudah bertindak secara politis yang berdampak: karyanya bisa diterima atau tidak digubris oleh apresiator. Sedangkan makna apresiasi yang paling vulgar dalam seni rupa adalah, karya itu “dibeli’ oleh kolektor sejati ataupun oleh investor.

Sebelum era reformasi, ada konvensi bahwa karya yang berkualitaslah yang akan diapresiasi atau “dibeli”. Kualitas dinilai dari kerumitan tema dan teknik. Aliran surealisme seperti yang didungungkan oleh Salvador Dali, diterima oleh publik sebagai contoh dari karya seni lukis berkualitas tinggi. Banyak pelukis Indonesia pun, kemudian menggeluti surealisme ala Dali atau Kahlo. Ivan Sagita, Lucia Hartini, Entang Wiharso, Totok Buchori, adalah contoh-contoh seniman yang singgah di ranah surealis. Read more…

Categories: Telaah Tag:

FENOMENA PENGEMIS

18 Januari 2010 2 komentar

Oleh : Wianti Aisyah

SAAT ini Indonesia memiliki penduduk lebih dari 227,779 juta jiwa, sebesar 75% dari jumlah tersebut berada dalam garis kemiskinan. Di sekitar kita, banyak sekali fenomena yang dapat kita lihat seperti pengemis yang meminta-minta di pinggir jalan. fenomena pengemis sudah lumrah kita jumpai setiap hari baik di pinggir jalan maupun di angkutan umum, bahkan keliling ke rumah-rumah. Memang benar, bila dibandingkan dengan orang beruntung yang memiliki segalanya, pengemis merasa sebagai orang tidak diharapkan ada di dunia ini. Read more…

Categories: Telaah Tag:

ADOPSI FAKTA IMAJINATIF SASTRA

18 Januari 2010 Tinggalkan Komentar

Oleh Anjrah Lelono Broto

Identitas Sastra

SASTRA sebagai sebuah teks yang sejajar dengan gambar, suara, maupun gerak memiliki roh yang multi-intrepretasi. Publik sebagai lembaga apresian independen bebas untuk mengintrepretasi pesan dan makna yang ada di dalamnya. Publik memahami secara dewasa bahwa sastra selain berangkat dari alam rekaan (fictional) serta alam permenungan (reflection), sastra dekat dengan identitas ketidakberpijakan atau imajinatif.Ketidakberpijakan cenderung diapresiasikan publik sebagai kebohongan. Tidak berlebihan memang, karena di dalam sastra bahasa, tema, ataupun amanat bersifat personal, masing-masing individu memiliki keberagaman stilistika komunikasi yang cenderung membebaskan intrepretasi. Yang membedakan teks sastra dengan teks lain adalah kegenialan sastra untuk membuat pengakuan bahwa dirinya adalah aksioma fiksi, sedangkan teks-teks yang lain cenderung enggan untuk jujur bahwa sejatinya dirinya juga melakukan sebuah kebohongan.Sastra dekat dengan identitas ketidakberpijakan, lantaran di dalam sastra ‘kebenaran’ disampaikan dengan bahasa teks imajinatif dan personal yang sarat dengan ‘pembenaran-pembenaran’.

Hari ini, di dalam ruang publik Indonesia sekat antara kebenaran dan ketidakberpijakan menjadi tipis, bahkan hilang. Publik tertatih-tatih untuk membedakan antara fakta dan opini, antara antara realitas dan imajinasi, antara kebenaran dan mimpi. Pengambil-alihan fungsi dan peran prosedural teks sastra oleh teks-teks yang lain ini memungkinkan mewabahnya dehumanisasi kolektif. Mengapa? Sastra yang multi-intrepretasi dan refleksional diadopsi habis-habisan oleh teks yang lain, ketika teks-teks tersebut kehilangan kesejatiannya maka publik terperosok dalam krisis kebenaran. Eksistensi menjadi samara, bahkan kabur, ketika kebenaran disampaikan secara imajinatif yang dapat dianalisis secara instrinsik maupun ekstrinsik, seperti halnya sastra.Publik membaca berita dan informasi yang dibungkus dalam teks gambar, suara, maupun gerak, seperti halnya membaca sebuah karya sastra. Publik menganalisis dan memahaminya menggunakan perspektif instrinsik maupun ekstrinsik. Bagaimana karakter tokohnya, temanya apa, alurnya bagaimana, settingnya dimana dan kapan, bahkan publik juga membaca ‘siapa’ yang memberitakan seperti halnya penikmat karya sastra memahami ‘siapa’ pengarangnya. Read more…

Categories: Telaah Tag:

Avatar, Film dengan Pesan Terbaik

18 Januari 2010 Tinggalkan Komentar

Oleh : Rahmatullah Akbar

Minggu, 28 desember 2009. Hari ini saya pergi bersama papa dan adik saya ke XXI metropole untuk menonton AVATAR, film yang paling banyak dibicarakan orang-orang disekeliling saya akhir-akhir ini. Tidak mau berbasa-basi, langsung kita ke inti beritanya.
Mengapa saya menganugrahkan AVATAR sebagai Film Dengan Pesan Terbaik?. Read more…

Categories: Telaah Tag:

Indonesia Butuh Sherlock Holmes

18 Januari 2010 Tinggalkan Komentar

Oleh : Rahmatullah Akbar

“Indonesia Butuh Sherlock Holmes”, pasti semua bertanya-tanya tentang pernyataan ini, saya sendiri juga bertanya-tanya tentang hal itu. Jadi lebih baik saya mencoba menjelaskannya dengan baik melalui blog ini. Perhatikan.

Mengapa Indonesia butuh Sherlock Holmes? Read more…

Categories: Telaah Tag:
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.