Arsip

Archive for the ‘Cerpen’ Category

Jaim si penari asmara

18 Januari 2010 Tinggalkan Komentar

Oleh : fariz

Malam itu sudah tiga sampai enam batang rokok Aku hisap. Aroma dingin kamarku hilang sudah oleh asap yang menghangatkan. Aku lirik arlojiku, ternyata sudah jam 2 malam. Lalu aku tidur.

Keesokan harinya. Aku bangun dihari yang sama saat aku tidur. Sepertinya kata keesokan hari tidak berguna pada saat itu. Aku lirik lagi arlojiku, ternyata masih ada untung tidak hilang. Belum sempat Aku menyadarkan diri, ternyata h ku berdering. Ada sms entah dari siapa. Oh ternyata dari temanku Ratih namanya. Smsnya bigini.
Jaim lo ga kuliah?
Lalu aku balas seperti ini
Emang lo liat gw di kampus?
Y g lah. Read more…

Categories: Cerpen Tag:

KEPADA SANG MALAM

18 Januari 2010 Tinggalkan Komentar

Oleh : a ganjar sudibyo

GUGUSAN bintang menari-nari tatkala sang malam terbit menampakkan wajahnya, disertai sinar purnama yang tampak begitu rindang berjaga di sepanjang malam. Riuh kerlip-kerlip kota seakan kian menambah angkuhnya dekorasi malam di sela-sela heningnya malam dan kesyahduan di antara kekelaman. Sangatlah wajar, bila malam selalu diliputi kejutan-kejutan karena di balik gelap pasti ada terang. Entah dalam bentuk apa terang menjelma. Ada kalanya, setetes harapan mencuat di saat sang bintang merosot dari peraduannya. Ya….inilah cerita malam, cerita ketika hembusan angin lirih muncul menemani setiap insan yang ingin berduel dengan sang malam. Atau, ketika angin tak mau diajak kompromi. Lantas, meluluhlantahkan malam syahdumu.

Tak kalah mencoloknya, para binatang malam bermunculan menjalankan misi-misinya. Adalah nyamuk-nyamuk yang beterbangan ke sana ke mari, mencari seteguk butiran segar. Mereka nampak hebat dengan perlengkapan senjata jarum mematikan di barisan depan wajah mereka. Namun sayang, tak sedikit dari mereka yang tewas. Entah terinjak, entah tertindih, entah tergilas demi mendapatkan setetes embun merah. Read more…

Categories: Cerpen Tag:

DIARY DAN SEPUCUK SURAT

18 Januari 2010 1 komentar

Oleh : david infanteri nainggolan

10 Maret 1949

Setelah beberapa minggu, akhirnya kami tiba di perairan Indonesia. Kapal besi yang kutumpangi ini seakan telah menjadi dunia kecilku. Nama kapal ini adalah Tromp, yang lucunya mirip dengan nama ayahku. Aku masih ingat akan pesannya saat melepas kepergianku di Heerenveen, “Wajib militer tidaklah seberat itu nak, lakukan yang terbaik untuk negaramu”. Tapi kulihat dengan jelas, mata beliau yang menyiratkan kekecewaan, pada perang terkutuk ini, yang menunda kepergianku untuk melanjutkan pendidikan kedokteran di Prancis, entah sampai kapan.

Namun akupun menyimpan kerinduan yang dalam akan tanah ini, karena tanah ini adalah tanah kelahiranku, bumi pertama yang kupijak. Banyak kenangan manisku akan tanah ini, tentang kesabaran Mbok Jumi, yang selalu tersenyum melihat kenakalanku, tentang teman-teman pribumiku, saat kami berlarian bermain tekongan, bermain layangan, atau saat kami bermain kelereng. Keluguan dan keceriaan yang belum pernah kurasakan di Belanda.

Ayah, bolehkah aku menyimpan perasaan ini? Saat ku menenteng senapanku di hadapan mereka? Read more…

Categories: Cerpen Tag:

Indonesia Butuh Pahlawan

18 Januari 2010 Tinggalkan Komentar

Oleh : Bobby Priambodo

Kabar tentang Pak Rahman menjadi gila karena gagal terpilih sebagai caleg sepertinya sudah menyebar di sekitar kompleks. Wira, yang beberapa minggu lalu baru saja menggunakan hak pilihnya yang pertama, sedikit merasa bersalah atas kejadian itu. Sebab ia tidak memilih Pak Rahman saat pemilu.

“Yah, begitulah kalau maju tanpa menguatkan mental untuk kalah,” kata Bu Ratih ketika Wira membicarakan tentang hal itu dengannya. “Harusnya kalau mau mencalonkan diri, harus siap kalah! Jangan hanya siap menang saja.”

Apa boleh buat. Godaan gaji bila duduk di kursi DPR memang begitu menggiurkan. Wira sendiri tidak tahu bisakah ia tahan bila godaan itu sampai kepadanya. Tapi kondisi Pak Rahman saat ini tampaknya bisa membuatnya berpikir dua kali.
***

Pagi itu Wira membaca koran. Beberapa artikel masih membahas tentang pemilu kemarin. Bervariasi judulnya. Tetapi semua artikel itu menjurus kepada satu pertanyaan di hati Wira: Akankah hasil pemilu itu bisa menenteramkan hati masyarakat Indonesia? Read more…

Categories: Cerpen Tag:

Musim Mendung

18 Januari 2010 Tinggalkan Komentar

Oleh : aam lusyana

Lelaki kurus itu sudah hampir seminggu sering menyendiri, nampaknya telah menjadi sebuah pekerjaannya menghabiskan waktu dengan menyendiri. Setiap pagi menjelang matahari menjalankan tugasnya, dia sudah terpekur menata sarungnya diantara ujung kaki hingga menutupi setengah badannya, kemudian dia pun menatap langit dan bermainlah dia dengan pikirannya.

Lama sekali dia menatap langit itu, kala itu langit masih berselimutkan gelap dan kabut asap, dinginnya suhu udara kota Bandung, sedikitpun tidak mengganggunya, malahan gerentes hatinya dingin adalah jiwa yang mengakar dalam kehidupannya selama dia ditinggalkan oleh pujaan hatinya selepas menyelesaikan studi sarjananya, tanpa sebab yang jelas. Read more…

Categories: Cerpen Tag:

MENGEJAR WARNA PAGI

18 Januari 2010 Tinggalkan Komentar

Oleh : Yunus Abidin

Barang kali ini adalah kali keseratus matahari tak muncul di pagi yang dingin. Embun bebas bersuara merayakan kemenangannya. Pesta-poranya mampu membungkam daun yang basah kuyup menahan kantuk panjang. Sementara ngilu dingin terus bergerilya mempropaganda rasa malas. Sungguh dingin pagi ini adalah belati yang merobek-robek ruang semangat ku.

Pohon Waru yang tegak berdiri di depan warung Pak Kirjo, pagi ini sepi pengunjung. Burung Perenjak rupanya enggan berbicara. Yakinlah kini mereka masih asyik bergumul dengan kekasihnya pada sarang-sarang di tepi sawah Cibeber yang anggun kehijauan.

Ada apa pula dengan warung kopi Mbak Iyem? Biasanya radio bututnya selalu menyalak paling keras. Lagu dangdut Remix yang biasa menggempa kini diam tak berkutik. Sungguh ini pagi berkabut yang sangat dingin, sepi dan tak bertepi.
Barang kali akulah makhluk pertama yang membuka jendela kamar kos seharga 90 ribu per bulan ini. Begitu sang jendela terbuka, segera pasukan hawa lebih dingin menyerbu masuk dan memekikkan merdeka bebas masuk ke dalam kamarku. Aku Terpana. Dunia penuh asap yang dingin luar biasa. Kukancingkan jaket ku lebih atas. Secangkir kopi penolong yang kuharapkan hadir rupanya telah kandas semalam menemani begadang panjang tak bertepi. Kini aku hanya bisa pasrah pada kekuasaan cuaca dan penjajahan iklim. Read more…

Categories: Cerpen Tag:

DEBAT

18 Januari 2010 Tinggalkan Komentar

Oleh : Ribut Achwandi

Suatu saat tiga orang sahabat berdebat di sebuah warung kopi. Orang pertama — kebetulan seorang polisi. Sementara orang kedua — kebetulan juga ia adalah seorang jaksa. Dan orang ketiga — yang juga tidak lepas dari faktor kebetulan pula — ia bekerja di pengadilan sebagai seorang hakim. Kenapa saya sebut kebetulan? Sebab atas nama baik kebetulan pula mereka bisa bekerja di lembaga-lembaga itu. Karena di zaman sekarang nggak ada orang yang hanya bisa ngandalin kepintaran. Karena ketiga orang tersebut secara kebetulan pula sebenarnya tidak terlalu pintar. Jadi mereka juga mengandalkan keberuntungan nasib mereka bertiga.

Dalam debat model kusir jaran itu ketiganya mendebatkan siapa orang yang paling berjasa memberantas korupsi di negeri ini. Si polisi bilang, “Saya sulit membayangkan kalau seumpamanya di negeri ini nggak ada polisi . Wah ,pasti susah to nangkepi koruptor? Jadi menurut saya polisilah yang paling berjasa memberantas korupsi . Lah coba kalau nggak ada polisi siapa orang yang berani menangkap koruptor? Read more…

Categories: Cerpen Tag:

Bayangan Kematian

18 Januari 2010 Tinggalkan Komentar

Oleh : Eko Hartono

AKHIR-akhir ini hatiku dibuat gelisah dan gundah. Aku merasa bayangan kematian sedang mengintaiku. Membuntuti ke mana pun aku pergi. Aku tak tahu pasti, sejak kapan perasaan ini hadir. Mungkin sejak aku terhindar dari tabrakan maut yang hampir merenggut jiwaku beberapa waktu lalu.

Ceritanya, sore itu aku baru saja pulang dari berjualan bakso. Aku mendorong gerobak bakso menuju ke rumah. Ketika sampai di sebuah tikungan, tiba-tiba aku kebelet pipis. Aku meninggalkan gerobak bakso di pinggir jalan, menuju ke balik semak-semak dan menunaikan hajat. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh keras sekali mirip suara ledakan. Aku terkejut dan bergegas kembali. Kulihat gerobak bakso sudah terguling. Tak jauh dari gerobak bakso sebuah sepeda motor dan mobil pick up tampak berciuman mesra. Pengendara motor tewas seketika dan pengemudi pick up patah kakinya terjepit batang kemudi. Aku shock bukan main menyaksikan peristiwa mengerikan ini.

Entah, apa jadinya jika saat itu tidak terbit keinginan untuk pipis, mungkin aku sudah jadi korban. Posisi mobil pick up persis berada di tempat gerobak bakso berdiri. Rupanya saat bertabrakan dengan sepeda motor, pengemudi mobil pick up sempat membanting setir ke kiri dan menghantam gerobak baksoku. Kondisi gerobak bakso sudah tak bisa digambarkan lagi. Ringsek! Read more…

Categories: Cerpen Tag:

BUTA

18 Januari 2010 2 komentar

Oleh : Fa

“Happy Birthday Luna…Happy birthday Luna…Happy birthday… Happy birthday…Happy birthday Luna…”

Nyanyian itu seolah mengantarkannya pada hari dimana dia harus pasrah akan segala yang tengah menimpanya nanti. Disaat dia tengah terbaring di tempat tidur itu. Di kamar yang pengap dan bau obat-obatan. Rasa sesak yang amat dalam mengahantuinya yang kini tengah tertidur pulas karena obat bius itu. Tapi sepertinya dia masih sadar, dia masih bisa merasakan hangat sahabatnya, keluarganya, dan semua yang menyayanginya. Mereka ada di ruangan ini. Yah… mereka sahabatnya termasuk aku sedang menyanyikan selamat ulang tahun untuknya sambil bercucuran airmata. Sementara Ibu, sedang duduk dikursi sebelahnya, memegang tangannya dan berkata “Selamat Ulang Tahun Anakku…”seraya menitikkan airmata.

Suasana itu tiba-tiba berubah. Dia seperti merasakan suara gelinding roda yang ditarik dari kebahagiaan itu tengah menjemputnya pada sebuah ruangan yang penuh dengan peralatan medis yang sangat canggih. Ya… ruang operasi… Tempat dimana dia harus tertidur dan mungkin takkan terbangun lagi. Read more…

Categories: Cerpen Tag:

Koruptor Yang Anggun

18 Januari 2010 Tinggalkan Komentar

Oleh : Harrys Simanungkalit

Beberapa bulan terakhir ini mama mendadak menjadi seperti layaknya selebriti yang sedang naik daun. Pemberitaannya bahkan mengalahkan publikasi anak-anak muda jebolan kontes idola di televisi. Berita tentang mama juga terlihat lebih berkelas karena mama tidak muncul diacara sejenis infotaimen atau acara gossip lainnya dimana selebriti sering mengumbar berita atau sensasi yang tidak penting dengan pembawa cara yang cengengesan dan centil. Tetapi mama justru sering muncul di program berita skala nasional dengan pembawa acara yang terlihat berwibawa dan cerdas.

Selain dilayar kaca, berita dan foto mama juga wara-wiri dihalaman depan beberapa media cetak terbitan ibukota atau daerah. Layaknya selebriti yang banci tampil dan banci foto, mama tampak menarik dalam liputan media-media tersebut. Sama sekali kontras dengan konteks pemberitaan yang sebenarnya tentang mama. Read more…

Categories: Cerpen Tag:
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.