Perjalanan Untuk ‘Melihat’-Mu

dsc00716
berjalan aku
memandangi bukit di kejauhan
ada peristiwa
sebatang pohon raksasa tumbang
alam pun terang benderang

kuhampiri
kuperhatikan
adakah pohon ini sengaja ditebang?
ternyata
tak kulihat tanda-tandanya

adakah sengaja dicabut?
ternyata
tak juga kulihat
tanda-tandanya

bahkan tak ada tanda-tanda
telah berdiri sebatang pohon
yang kuat, yang kokoh
lantas kuragukan
adakah ini halusinasi belaka?

namun kuyakin itu
telah kulihat jadi saksi
kenapa hilang setelah tumbang?
adakah jatuh ke jurang?
mungkinkah di telan bumi?

hati pun dicekam was-was
padahal langit kian terang
kini kuteruskan langkahku
tak lagi peduli

untuk apa sekedar memperhatikan
sebuah pohon yang tumbang?

mataku menatap liar pada lereng bukit
ada bangunan
memberi cahaya
di sekelilingnya terang
dan banyak orang berkumpul
ku ingin tahu lagi
gerangan apa peristiwa
terjadi di sana?

kumasuki tempat itu
selangkah ke dalam
ada anak tangga menuju ke bawah
kenapa demikian dalam
tapi terang jalannya

kutanyakan pada mereka di situ
tak sebuah suara pun memberi jawaban
hanya ada isyarat
di sana ada ruang khusus
tempat kau ‘melihat’ Tuhanmu

aku memilih diam
namun kulihat
semua sedang bersatu padu
seolah ingin menyelidik
seolah ingin bersama-sama
sampai ke sana

kusaksikan
jalan itu sebenarnya begitu lebar

yang tak kumengerti
tak seorang pun berusaha saling mendahului
dan kian tak kumengerti
karena tak juga ada antrian

ataukah di tempat ini
egoisme tak ada lagi?

saat kudengar sebuah nama dipanggil
seorang masuk ke ruang itu

aku diburu keingin tahuan
dan tanpa sabar
tanpa bermaksud mendahului siapapun
aku masuk sekedar menyelidiki

menuruni tangga
seakan ada sesuatu
menuntunku memberi kenyamanan

lantas menduga
adakah yang sedang kutuju
adalah dasar hati?

ketika tiba pada titik tertentu
ada seorang penjaga dengan cambuk di tangannya
entah untuk apa

sebuah nama dipanggil
membuat gema
tapi bukan aku

mungkin aku bukan termasuk yang dipanggil saat ini
atau mungkin belum tiba giliranku

namun tiada lagi was-was
saat yakin
perjalanan ini dijaga oleh-Nya
maka aku pun tiada rasa takut lagi
namun selintas muncul dalam benak

adakah ini batas
antara aku dan hatiku sendiri?

saat kutatap lagi anak tangga ini
terasa kian curam menghujam
terasa kian dalam
namun serasa ruang tujuan
begitu dekat di depan mata

namun kenapa anak tangga ini
seolah tak berujung?
padahal mungkin dalam sekali lompatan
kita akan berada di pintu ruangan itu
pun akan lebih cepat
menjumpai-Nya
melihat-Nya
jika itu memang tujuan

sebersit kata merasuk dalam hati:

“Ya Allah, bimbinglah aku untuk melihat-Mu!”

aku tak pedulikan
andaikan ternyata ini sebuah doa
namun kata-kata itu kuucapkan bagai mantra
penuh keyakinan pada-Nya

namun sebuah pikiran mengingatkan
jangan berlama-lama di sini
andaipun mesti menjalani
sekarang bukan giliranmu
karena kau di sini sekedar ingin tahu
tanpa maksud mendahului

maka kuputuskan kembali
nyatanya aku tak lagi di tempat itu
padahal belum lagi kugerakkan ragaku

saat kurasakan
di tempat sekarang suasana penuh kegelapan
namun aku dapat memandang segala sesuatu dengan jelas

ternyata hari telah malam
aku telah berada kembali
di luar bangunan itu

kusaksikan
ada seorang laki-laki berpakaian kumuh
terikat pada sebuah tiang
saat ingin kubuka ikatannya
dia telah terbebas dari ikatan itu

lantas kulihat sebuah mata air
dari pipa yang berdiri di atas tanah
aku memutar kran
oleh keinginan spontan
untuk mensucikan diri dengan air itu

saat kubasuh diriku
orang tersebut menghampiri
namun tidak berkata-kata
tapi di sebelahnya ada perempuan cantik

lantas ada pertanyaan
inikah godaan bagiku?

namun belum lagi kutemukan jawaban
batinku memberontak marah
saat kusaksikan
betapa perempuan itu
diperlakukan semena-mena
di seret-seret di depan mataku

ini pelecehan, pikirku
maka aku berpikir untuk menentangnya

saat hampir kumaki
laki-laki itu menghampiriku dan berkata:

anda dituduh telah memperkosa perempuan ini!

lupa pada marahku
aku terperanjat

batinku membela diri
bahwa aku tak pernah kenal mereka
bahwa aku tak pernah melihat mereka
namun kenapa tiba-tiba aku seolah divonis?

ini pasti fitnah, pikirku
maka aku harus mempertahankan diri

nyatanya saat mataku menatap ke arah perempuan itu
aku tergoda oleh kecantikan
aku tergoda oleh keindahan
membuat jiwaku dirangsang nafsu
kaget sendiri pada gairah yang tiba-tiba muncul
lantas ada keinginan tanpa beban:
aku ingin bersenggama dengan perempuan itu
dan aku merasa harus melakukannya

tapi entah dari mana
muncul sosok seorang petualang
membayangkan kelelahan dari perjalanannya
ada nafsu namun juga ada wibawa
lewat di situ
ditariknya perempuan itu ke semak-semak
dia gagahi perempuan itu
mereka pun bersenggama

batinku tak menerima ini
kini aku benar-benar ingin marah
nyatanya entah kenapa
aku pun seolah ikut merasakan
kenikmatan yang sedang mereka raih

aku marah
tapi tak berdaya

aku marah
tapi kenapa ikut merasakan

aku ingin marah
AKU INGIN MARAH

dan kulampiaskan marah itu pada diri sendiri

lantas berpikir:
jangan-jangan sang petualang itu
adalah diriku sendiri

ah, ini iblis, tolak batinku

ketika puncak kenikmatan itu telah diraih
aku ingin mewujudkan marahku pada sang petualang

lantas kuserang dia

nyatanya entah kenapa
aku kini malah berada di atas tubuh perempuan itu
sejenak aku tergoda
namun ketika sang petualang itu lenyap dari pandangan mata
aku tak berdaya dalam pelukan perempuan itu
meski masih berpikir:
ini adalah iblis!dan kulepaskan diri dari perempuan itu

ternyata tanpa kusadari sang laki-laki gembel tadi
masih ada di tempat ini

dia pun menghampiriku
dan tetap menuduhku telah memperkosa
padahal jelas-jelas kutahu
dia menyaksikan sang petualang itu bersenggama

tapi kenapa mesti aku
yang mempertanggungjawabkan
perbuatan sang petualang tadi?

apakah hanya karena
pikiranku ikut merasakan?
apakah hanya karena
aku sempat tergoda?

tapi itu kan tak kulakukan dengan jasadku ini!

atau memang begitu besar kesalahan pikiranku?
atau memang begitu besar kesalahan batinku?

batinku berteriak:

iblis!
fitnah!
ini iblis!

batinku berteriak apa saja
nyatanya semua itu pun
lenyap begitu saja

entah kenapa
kudapati diriku masih bersuci seperti tadi
kudapati diriku masih di mata air tadi

ada keinginan istighfar
nyatanya tak kulakukan
hanya berkata dalam hati:

ya Allah, bimbinglah aku untuk melihat-Mu!

berkali-kali itu kuucapkan bagai mantra
hingga lidahku keluar dan
tak sanggup lagi keluarkan suara

kurasakan air yang membasahiku
begitu dingin
begitu sejuk

dan kudapati jiwaku tenang
dan kudapati jiwaku dipenuhi kesejukan
dan kudapati jiwaku dalam kedamaian

dan muncul motivasi
aku harus lebih kuat dari sebelumnya
aku akan hadapi apapun
tanpa takut dan ragu

entah itu musuh nyata
entah itu musuh dari dalam diri sendiri
akan kuhadapi
sampai tiba giliranku
dan aku akan melihat-Nya!

  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.