Perjalanan Untuk ‘Melihat’-Mu

berjalan aku
memandangi bukit di kejauhan
ada peristiwa
sebatang pohon raksasa tumbang
alam pun terang benderang
kuhampiri
kuperhatikan
adakah pohon ini sengaja ditebang?
ternyata
tak kulihat tanda-tandanya
adakah sengaja dicabut?
ternyata
tak juga kulihat
tanda-tandanya
bahkan tak ada tanda-tanda
telah berdiri sebatang pohon
yang kuat, yang kokoh
lantas kuragukan
adakah ini halusinasi belaka?
namun kuyakin itu
telah kulihat jadi saksi
kenapa hilang setelah tumbang?
adakah jatuh ke jurang?
mungkinkah di telan bumi?
hati pun dicekam was-was
padahal langit kian terang
kini kuteruskan langkahku
tak lagi peduli
untuk apa sekedar memperhatikan
sebuah pohon yang tumbang?
mataku menatap liar pada lereng bukit
ada bangunan
memberi cahaya
di sekelilingnya terang
dan banyak orang berkumpul
ku ingin tahu lagi
gerangan apa peristiwa
terjadi di sana?
kumasuki tempat itu
selangkah ke dalam
ada anak tangga menuju ke bawah
kenapa demikian dalam
tapi terang jalannya
kutanyakan pada mereka di situ
tak sebuah suara pun memberi jawaban
hanya ada isyarat
di sana ada ruang khusus
tempat kau ‘melihat’ Tuhanmu
aku memilih diam
namun kulihat
semua sedang bersatu padu
seolah ingin menyelidik
seolah ingin bersama-sama
sampai ke sana
kusaksikan
jalan itu sebenarnya begitu lebar
yang tak kumengerti
tak seorang pun berusaha saling mendahului
dan kian tak kumengerti
karena tak juga ada antrian
ataukah di tempat ini
egoisme tak ada lagi?
saat kudengar sebuah nama dipanggil
seorang masuk ke ruang itu
aku diburu keingin tahuan
dan tanpa sabar
tanpa bermaksud mendahului siapapun
aku masuk sekedar menyelidiki
menuruni tangga
seakan ada sesuatu
menuntunku memberi kenyamanan
lantas menduga
adakah yang sedang kutuju
adalah dasar hati?
ketika tiba pada titik tertentu
ada seorang penjaga dengan cambuk di tangannya
entah untuk apa
sebuah nama dipanggil
membuat gema
tapi bukan aku
mungkin aku bukan termasuk yang dipanggil saat ini
atau mungkin belum tiba giliranku
namun tiada lagi was-was
saat yakin
perjalanan ini dijaga oleh-Nya
maka aku pun tiada rasa takut lagi
namun selintas muncul dalam benak
adakah ini batas
antara aku dan hatiku sendiri?
saat kutatap lagi anak tangga ini
terasa kian curam menghujam
terasa kian dalam
namun serasa ruang tujuan
begitu dekat di depan mata
namun kenapa anak tangga ini
seolah tak berujung?
padahal mungkin dalam sekali lompatan
kita akan berada di pintu ruangan itu
pun akan lebih cepat
menjumpai-Nya
melihat-Nya
jika itu memang tujuan
sebersit kata merasuk dalam hati:
“Ya Allah, bimbinglah aku untuk melihat-Mu!”
aku tak pedulikan
andaikan ternyata ini sebuah doa
namun kata-kata itu kuucapkan bagai mantra
penuh keyakinan pada-Nya
namun sebuah pikiran mengingatkan
jangan berlama-lama di sini
andaipun mesti menjalani
sekarang bukan giliranmu
karena kau di sini sekedar ingin tahu
tanpa maksud mendahului
maka kuputuskan kembali
nyatanya aku tak lagi di tempat itu
padahal belum lagi kugerakkan ragaku
saat kurasakan
di tempat sekarang suasana penuh kegelapan
namun aku dapat memandang segala sesuatu dengan jelas
ternyata hari telah malam
aku telah berada kembali
di luar bangunan itu
kusaksikan
ada seorang laki-laki berpakaian kumuh
terikat pada sebuah tiang
saat ingin kubuka ikatannya
dia telah terbebas dari ikatan itu
lantas kulihat sebuah mata air
dari pipa yang berdiri di atas tanah
aku memutar kran
oleh keinginan spontan
untuk mensucikan diri dengan air itu
saat kubasuh diriku
orang tersebut menghampiri
namun tidak berkata-kata
tapi di sebelahnya ada perempuan cantik
lantas ada pertanyaan
inikah godaan bagiku?
namun belum lagi kutemukan jawaban
batinku memberontak marah
saat kusaksikan
betapa perempuan itu
diperlakukan semena-mena
di seret-seret di depan mataku
ini pelecehan, pikirku
maka aku berpikir untuk menentangnya
saat hampir kumaki
laki-laki itu menghampiriku dan berkata:
anda dituduh telah memperkosa perempuan ini!
lupa pada marahku
aku terperanjat
batinku membela diri
bahwa aku tak pernah kenal mereka
bahwa aku tak pernah melihat mereka
namun kenapa tiba-tiba aku seolah divonis?
ini pasti fitnah, pikirku
maka aku harus mempertahankan diri
nyatanya saat mataku menatap ke arah perempuan itu
aku tergoda oleh kecantikan
aku tergoda oleh keindahan
membuat jiwaku dirangsang nafsu
kaget sendiri pada gairah yang tiba-tiba muncul
lantas ada keinginan tanpa beban:
aku ingin bersenggama dengan perempuan itu
dan aku merasa harus melakukannya
tapi entah dari mana
muncul sosok seorang petualang
membayangkan kelelahan dari perjalanannya
ada nafsu namun juga ada wibawa
lewat di situ
ditariknya perempuan itu ke semak-semak
dia gagahi perempuan itu
mereka pun bersenggama
batinku tak menerima ini
kini aku benar-benar ingin marah
nyatanya entah kenapa
aku pun seolah ikut merasakan
kenikmatan yang sedang mereka raih
aku marah
tapi tak berdaya
aku marah
tapi kenapa ikut merasakan
aku ingin marah
AKU INGIN MARAH
dan kulampiaskan marah itu pada diri sendiri
lantas berpikir:
jangan-jangan sang petualang itu
adalah diriku sendiri
ah, ini iblis, tolak batinku
ketika puncak kenikmatan itu telah diraih
aku ingin mewujudkan marahku pada sang petualang
lantas kuserang dia
nyatanya entah kenapa
aku kini malah berada di atas tubuh perempuan itu
sejenak aku tergoda
namun ketika sang petualang itu lenyap dari pandangan mata
aku tak berdaya dalam pelukan perempuan itu
meski masih berpikir:
ini adalah iblis!dan kulepaskan diri dari perempuan itu
ternyata tanpa kusadari sang laki-laki gembel tadi
masih ada di tempat ini
dia pun menghampiriku
dan tetap menuduhku telah memperkosa
padahal jelas-jelas kutahu
dia menyaksikan sang petualang itu bersenggama
tapi kenapa mesti aku
yang mempertanggungjawabkan
perbuatan sang petualang tadi?
apakah hanya karena
pikiranku ikut merasakan?
apakah hanya karena
aku sempat tergoda?
tapi itu kan tak kulakukan dengan jasadku ini!
atau memang begitu besar kesalahan pikiranku?
atau memang begitu besar kesalahan batinku?
batinku berteriak:
iblis!
fitnah!
ini iblis!
batinku berteriak apa saja
nyatanya semua itu pun
lenyap begitu saja
entah kenapa
kudapati diriku masih bersuci seperti tadi
kudapati diriku masih di mata air tadi
ada keinginan istighfar
nyatanya tak kulakukan
hanya berkata dalam hati:
ya Allah, bimbinglah aku untuk melihat-Mu!
berkali-kali itu kuucapkan bagai mantra
hingga lidahku keluar dan
tak sanggup lagi keluarkan suara
kurasakan air yang membasahiku
begitu dingin
begitu sejuk
dan kudapati jiwaku tenang
dan kudapati jiwaku dipenuhi kesejukan
dan kudapati jiwaku dalam kedamaian
dan muncul motivasi
aku harus lebih kuat dari sebelumnya
aku akan hadapi apapun
tanpa takut dan ragu
entah itu musuh nyata
entah itu musuh dari dalam diri sendiri
akan kuhadapi
sampai tiba giliranku
dan aku akan melihat-Nya!


Komentar Terakhir